Subuh hari, tanggal 4 Juli 2012 setelah shalat subuh terdengar pengumuman dari masjid bahwa nanti malam tepatnya ba’da magrib akan diadakan peringatan malam Nisfu Sya’ban. Saya yang saat itu sedang bersiap-siap untuk berangkat kekantor agak sedikit terdiam mendengarkan pengumuman tersebut. Yang ada dikepala saya saat mendengarkan pengumuman itu adalah bulan puasa akan tiba sebentar lagi. Tentang bagaimana cara peringatan yang diumumkan oleh masjid, saya gak tau sama sekali. Karena kebetulan orang tua tidak pernah melakukan atau mengikuti tradisi peringatan tersebut.

Pagi itu saya berangkat kekantor dengan mengendarai mobil. Sengaja tidak menggunakan ojek langganan yang sudah sekitar setengah tahun ini dimanfaatkan untuk berangkat kekantor, selain karena jalan tidak terlalu macet akibat liburan sekolah, juga ada paket sembako dari kantor yang cukup banyak yang harus saya bawa pulang.

Seperti biasa, pukul 17.45 saya mengendarai mobil kembali kerumah. Sepanjang jalan tol Cilandak hingga Bintara, suara yang keluar dari siaran radio Rodja menemani perjalanan. Tanpa ada orang lain dimobil, tidak menjadikan suasana perjalanan menjadi sepi. Otomatis selama perjalanan siaran dari radio dengan frekuansi 756AM menjadi teman seperjalanan yang sanggup menyingkirkan rasa kantuk yang timbul karena kepenatan serta dinginnya AC mobil.

Selepas gerbang tol Bintara sekitar pukul 18.30, sayup-sayup mulai terdengar suara dari masjid-masjid. Suasana jalan juga cukup ramai, baik oleh pengendara motor maupun pejalan kaki. Malam itu tampak berbeda dibanding malam-malam sebelumnya selain karena perjalanan tidak terlalu macet, cahaya bulan saat itu sangat terang dan cantik.

Tidak lama setelah itu, sampailah saya dikompleks rumah orang tua yang telah 23 tahun kami tempati. Berhubung lokasi rumah ada didalam gang yang tidak bisa dilalui mobil, mobil harus saya parkir di lapangan basket yang disulap mejadi tempat parkir umum pada malam hari yang posisinya pas disamping masjid. Suara pengajian dari pengeras suara masjid sangat jelas terdengar, dan sangat jelas bahwa saat itu surah Yassin sedang dikumandangkan. Jalan menuju rumah harus melalui masjid. Suasana masjid saat itu cukup ramai, masjid penuh dengan para jamaah yang secara bersama-sama membacakan surah Yassin dan beberapa surah pendek. Terlihat bukan hanya jamaah laki-laki saja yang banyak, jamaah perempuan tidak kalah banyaknya. Sesampai dirumah, saya tanyakan ke nyokap, tentang acara di masjid. Peringatan malam nisfu sya’ban, itulah jawaban nyokap. Lengkap dengan informasi bacaan surah Yassin 3x ditambah dengan surah-surah pendek. Tidak ketinggalan pula katanya para jamaah membawa air putih yang ditaroh dibotol-botol kecil seperti botol aqua. Air tersebut diletakkan didepan jamaah selama peringatan tersebut berlangsung dan akan dibawa pulang kembali serta diminum oleh anggota keluarga dirumah.

Setelah mendengar cerita nyokap, teringat kembali setahun yang lalu saat melakukan ibadah umroh. Ditanggal yang sama 15 Sya’ban, saya dan rombongan telah ada di kota Jeddah menunggu kepulangan ke tanah air. Setelah shalat magrib, uti yang juga ikut umroh berkata kalau malam tersebut malam Nisfu Sya’ban, katanya di Jakarta biasanya masjid-masjid ramai memperingatinya. Kebetulan hotel tempat kami menginap pas didepan Masjid Qishos Jeddah dan tidak jauh dari pasar Balad yang juga terdapat beberapa masjid kecil lainnya.

Malam tersebut tampak terang benderang, bukan hanya karena lampu-lampu jalanan di kota Jeddah tapi juga oleh terangnya bulan purnama yang tampak bulat. Suasana malam itu tampak cantik sekali terlebih kami nikmati dari balkon kamar hotel yang kami tempati langsung menghadap ke masjid Qishos dan danau kecil yang ada disamping masjid juga taman kota yang tertata rapih. Malam selepas magrib tersebut, jamaah yang selesai melakukan shalat magrib berjamaah langsung pulang meninggalkan masjid. Begitu juga selepas shalat Isya. Tidak terdengar satu pun dari pengeras suara dari masjid Qishos atau dari masjid-masjid lain yang berada disekitar hotel kumandang surah Yassin yang dilakukan secara bersama-sama. Juga tidak tampak jemaah masjid yang membawa botol-botol kecil yang berisi air putih. Hari itu, suasana masjid sama seperti malam-malam sebelumnya. Berbeda sekali dengan apa yang saya lihat pada malam ini di masjid sekitar rumah.

Suasana malam Nisfu sya’ban pun menular hingga ke pesan Blackberry. Secara silih berganti, Broadcast Massage masuk memberikan ucapan mohon maaf dalam memperingati malam nisfu sya’ban & menyambut bulan Ramadhan. Beberapa kutipan Hadist dilampirkan pada pesan-pesan tersebut yang tampaknya memperkuat dasar peringatan malam Nisfu Sya’ban.

Suasana malam Nisfu Sya’ban di Jeddah (menurut informasi di seluruh negeri Arab) dan di Jakarta yang sangat berbeda menjadi tanda tanya yang sangat besar di diri saya. Apakah peringatan yang selama ini masyarakat kita lakukan sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW??? Ataukah hanya sekedar tradisi saja??? Kalau memang yang dilakukan tersebut sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW seperti yang tertulis di hadist yang dilampirkan dihampir semua pesan pada Blackberry, mengapa di negeri atau kota kelahiran Nabi hal itu tidak dilakukan??? Bukankah sebagai pengikutnya, kita harus mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah???

Saya bukan seorang ahli agama, bahkan pengetahuan agama yang saya miliki bisa dibilang sangat sedikit sekali. Tapi tidak salah kalau saya bertanya dan mencari jawaban atas suatu ritual yang kadang menjadi tanda tanya besar buat saya. Sebagai seorang umat, saya harap ibadah yang saya lakukan dapat diterima oleh Nya dan dihindari dari perbuatan-perbuatan bid’ah. Jelas nabi besar Muhammad SAW adalah junjungan yang menjadi contoh dalam kehidupan saya…. Insya Allah….

Bogor, 5 Juli 2012

http://nengnong.com